Saya anti Rasuah
bingung Februari 12th, 2008Saya anti rasuah. Benarkah? hehehe… sulit untuk mengakui bahwasanya saya benar-benar bisa anti rasuah. Banyak hal yang membuat saya belum yakin mengenai kondisi diri ini. Waktu dulu masih kerja kantoran memang banyak sodoran amplop dan janji dari relasi yang saya tolak. Hal itu pun saya tolak karena bukannya saya orang baik, namun hanya karena perasaan yang tidak membolehkan saja. Dalam hati kecil sih ingin sekali menerima, tapi saya merasa bila menerima rasanya tidak ada kebanggaan yang bisa saya ceritakan pada anak dan istri saya. Tidak jarang uang dalam amplop diselipkan dalam proposal, kadang ada yang terang-terangan memberikan dan gilanya malam-malam pun kerumah untuk nyamperin saya. Iming-iming bussines trip juga dijanjikan, hadiah diberikan dll pokoknya menggiurkan. Saya bukan orang baik, hanya takut pada hukuman sebenarnya. Hukuman dari keluarga, maupun instansi saya dulunya juga bila berhubungan dengan hukum positif dinegara ini. Padahal, siapa sih nggak mau duit???
Akhirnya agar relasi saya tidak merasa tersinggung dan putus asa dengan saya, ada beberapa perkecualian yang bisa saya terima. Ini pun sudah melewati pergumulan batin yang sangat kuat. Hal hal yang bisa saya terima ini pun saya toleransikan menurut selera saya sendiri. Hal-hal yang bisa saya terima adalah sebagai berikut :
-
Tawaran makan pagi atau makan siang. Ya, kenapa tidak? ajakan makan kan tidak seberapa. lagian masa iya para relasi akan mengungkit hal tersebut dengan berkata : Pak tolong dong diapprove proposal saya. Saya kan sudah mentraktir makan buat bapak. Nggak lucu kan.
-
Pemberian tiket pesawat. Tidak jarang ada beberapa relasi yang dahulunya sering mencoba memberikan tiket pesawat untuk berlibur, pada mulanya saya tolak. Tapi setelah pikir punya pikir, dan dampak conflict of interestnya terhadap pekerjaan tidak begitu besar. Akhirnya saya terima.
-
Pemberian uang. No no no saya tidak mau menerima uang, tapi saya pernah menerima pemberian hand phone (senilai 2.5 juta). Tapi ya berhubung yang memberikan kepada saya sudah memberikan jasa kepada saya, dan sudah seperti saudara ya apa boleh buat. Gimana lagi? menolak malah jadi musuh nantinya. Intinya kan tidak membelokkan alur kebenaran.
Kira-kira gimana ya, apa saya bisa dikatakan Anti Rasuah?
Februari 12th, 2008 at 1:02 pm
sebenarnya istilah yang lebih tepat adalah risywah atau suap, bukan rasuah….
MUI telah mengeluarkan fatwa terkait hal tersebut sebagaimana tertuang dalam keputusan tertanggal 29 Juli 2000, memberikan risywah dan menerimanya hukumnya haram!
perlu dicatat, pengertian risyway adalah pemberian seseorang kepada orang lain(pejabat)dengan maksud meluluskan suatu perbuatan yang batil(tidak benar menurut syari’ah) atau membatilkan perbuatan yang hak….
Tentu kembali kepada nurani kita untuk menilai dan menimbangnya….
nuhun,
Februari 12th, 2008 at 4:27 pm
iya benar. Tapi memang dalam prakteknya itu berat. Bagaimanapun kita ini mahluk sosial, yang punya keluarga dan teman. Trus untuk membedakan bahwa pemberian keluarga dan teman itu indikasi suap bagaimana? Soalnya kita mempunyai keluarga dan teman juga karena banyak lantara. Lantaran kuliah, lantaran organisasi, lantaran kerja dan lantaran aktivitas aktivitas lainnya. Itu yang sulit sekali. Saya pun dulunya tetap berusaha bila ada ajakan entertain dari relasi, sebisa mungkin efeknya tidak mengubah keputusan dan kebenaran. Tapi memang tidak bisa dipungkiri rasa iba, kasihan dan simpati juga kadang timbul. Untungnya sekarang saya sudah resign dari pekerjaan itu, saya pilih wiraswasta saja.